Kamis, 26 Agustus 2010

Misteri Al-Qur`an dan As-Sunnah Tentang Pelestarian Lingkungan

Akhir-akhir ini penduduk bumi resah dan dirisaukan oleh dampak pemanasan global. Krisis lingkungan ini perlahan merambah wajah bumi dan menyebabkan terjadinya peningkatan permukaan air laut. Al-qur’an secara lugas mengingatkan dampak pemanasan global, diantaranya surah Al-Infitar ayat 3, “Dan apabila laut dijadikan meluap”, surah Al-Takwir ayat 6, “Dan lautan yang penuh gelombang”, surah Al-Thur ayat 6, “Dan apabila lautan dipanaskan”. Ketiga ayat ini mengindikasikan bahwa, “Bila laut melimpah dan meluap”, maka dampak yang ditimbulkan berimplikasi pada banyak hal seperti perubahan cuaca, angin topan, perubahan iklim, gangguan ekologis, gangguan keamanan pangan, gangguan demografis, dan juga gangguan geografis.

Kondisi bumi saat ini sudah semakin parah. Bencana datang sambung menyambung seakan tak pernah putus. Mulai dari banjir, tanah longsor, semburan lumpur, gempa bumi, angin puting beliung, penyakit menular, kebakaran hutan, dan kekeringan hingga ancaman kiamat 2012. Semua itu terjadi akibat ulah tangan manusia yang dengan rakus menguras bumi dan isinya (sumber daya alam berupa batubara, minyak bumi, emas, kayu, dan lain-lain). Pasak-pasak bumi kian hari semakin rapuh aibat tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang hanya mencari keuntungan dunia saja.
Akibat perbuatan manusia ini telah tergambar pada firman Allah swt, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Q.S. Ar-Rum, ayat 41).

Demikian juga balasan yang akan ditimpakan kepada perusak lingkungan, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah, maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.” (H.R. Abu Daud dalam Sunannya).

Jelaslah bahwa perusak lingkungan akan menuai hasil perbuatannya kelak di akhirat, di samping balasan yang nyata di dunia. Oleh karena itu, manusia harus menjauhi perbuatan dari kehidupan yang merusak lingkungan. Hijau bumi sebagai sumber kehidupan harus tetap lestari.

Ingatlah ketika Allah swt memerintahkan Adam a.s. bercocok tanam saat turun ke bumi. Ketika Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat tentang pentingnya bercocok tanam, menanam pepohonan, dan anjuran mengolah lahan tandus menjadi lahan subur. Rasulullah menjanjikan bagi setiap perbuatan yang mendatangkan rahmat dan barokah dengan pahala besar, seperti usaha untuk memakmurkan bumi.

Memakmurkan bumi termasuk ibadah kepada Allah swt. Dalam beribadah tentunya tidak mengenal tempat dan waktu. Demikian halnya terhadap lingkungan, sikap optimis dan tidak ada istilah terlambat berbuat untuk perbaikan lingkungan, meskipun bencana sudah terjadi dimana-mana. Nabi bersabda, “Kalau tiba saatnya (kiamat), sedangkan ditangan ada biji (kurma), maka tanamlah segera.” (H.R. Bukhari)

Dalam suatu kisah diriwayatkan, ada seorang penghuni surga, ketika ditanyakan kepadanya, perbuatan apakah yang dilakukannya di dunia hingga ia menjadi penghuni surga? Dia menjawab, bahwa selagi di dunia ia pernah menanam sebuah pohon. Pohon itu ia rawat dengan sadar dan tulus ikhlas hingga pohon tersebut tumbuh subur dan besar. Menyadari akan keadaannya yang miskin ia teringat bunyi sebuah hadis, “Tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau menyemai tumbuh-tumbuhan, kemudian buah atau hasilnya dimakan manusia dan burung, melainkan yang demikian itu shadaqah baginya” (H.R. Muslim). Didorong niat untuk bersedekah, maka ia biarkan orang berteduh di bawahnya dan diikhlaskannya manusia dan burung memakan buahnya. Sampai ia meninggal, pohon itu masih berdiri hingga setiap orang (musafir) yang lewat dapat istirahat berteduh dan memetik buahnya untuk dimakan atau sebagai bekal perjalanan. Burung pun ikut menikmatinya. Riwayat tersebut memberikan nilai yang sangat berharga sebagai bahan renungan, artinya dengan adanya kepedulian terhadap lingkungan memberikan dua pahala sekaligus, yaitu pahala surga dunia berupa hidup bahagia dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih, indah, dan hijau serta pahala akhirat di kemudian hari.

Dalam konteks pelestarian bumi dari kerusakan, maka Konsep Pembangunan Lingkungan yang berwawasan Al-Qur’an dan Hadis dapat dijadikan pedoman bagi pengambil kebijakan dan pelaksana kegiatan. Konsep ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
-Bahwa manusia sebagai khalifah di bumi, harus menguasai (minimal memahami) ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengembangkannya dalam nuansa humanisme dan aroma spiritual;
-Bahwa manusia harus menyingkirkan hawa nafsu dan amarah, dengan menampilkan akhlak mulia yang bermuara dari akal dan iman, sehingga tidak rakus, tidak tamak, dan tidak kufur ni’mat dalam mengeksploitasi lingkungan;
-Bahwa manusia yang mendambakan kehidupan akhirat (surga), kini saatnya memanfaatkan alam secara arif dan bijaksana ,dan segera menyadari kekeliruan karena semua perbuatan di dunia akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar